Sejarah Bumi Ageung
SEJARAH BUMI AGEUNG
Sumber : https://share.google/I9FX6Re39dHnBJX1M
Bumi Ageung Cianjur atau yang lebih dikenal dengan nama Bumi Ageung Cikidang merupakan salah satu bangunan bersejarah yang berada di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Bangunan ini menjadi simbol penting perjalanan sejarah masyarakat Cianjur sekaligus bukti kekayaan budaya Sunda yang masih terjaga hingga sekarang. Dengan bentuk rumah tradisional yang khas dan suasana klasik yang masih terasa, Bumi Ageung menjadi salah satu destinasi sejarah yang menarik untuk dipelajari.
Bumi Ageung bukan sekadar rumah tua biasa, melainkan saksi bisu perjalanan panjang pemerintahan, perjuangan kemerdekaan, hingga perkembangan budaya di Cianjur. Bangunan ini telah ditetapkan sebagai benda cagar budaya nasional karena nilai sejarah dan budayanya yang sangat tinggi.
Sejarah Bumi Ageung
Bumi Ageung dibangun pada tahun 1886 oleh Raden Adipati Aria Prawiradiredja II, Bupati Cianjur ke-10 yang memimpin pada periode 1862–1910. Rumah ini awalnya digunakan sebagai tempat peristirahatan keluarga bupati sekaligus pusat kegiatan pemerintahan pada masa kolonial Belanda.
Nama “Bumi Ageung” sendiri berasal dari bahasa Sunda yang berarti “rumah besar”. Nama tersebut menggambarkan kedudukan rumah ini sebagai tempat tinggal keluarga bangsawan sekaligus simbol kehormatan masyarakat Cianjur pada masa itu.
Setelah wafatnya Raden Adipati Aria Prawiradiredja II, rumah ini diwariskan kepada putrinya, Raden Ayu Tjitjih Wiarsih. Pada masa perjuangan kemerdekaan Indonesia, Bumi Ageung memiliki peran penting karena digunakan sebagai tempat perumusan pembentukan tentara PETA (Pembela Tanah Air) yang dipimpin oleh Gatot Mangkoepradja pada tahun 1943–1949
Selain itu, bangunan ini juga menjadi saksi berbagai peristiwa penting lainnya, termasuk penyerahan kekuasaan Belanda kepada tentara Republik Indonesia di wilayah Cianjur pada tahun 1949.
Arsitektur dan Keunikan Bangunan
Bumi Ageung memiliki arsitektur khas Sunda dengan dominasi material kayu dan bentuk rumah tradisional yang sederhana namun elegan. Warna hijau muda pada bangunan menjadi ciri khas yang membuatnya mudah dikenali. Bagian atap rumah berbentuk segitiga dengan ornamen kayu yang indah, memperlihatkan seni bangunan tradisional Sunda tempo dulu.
Di dalam rumah terdapat berbagai benda bersejarah seperti:
- Foto keluarga bangsawan Cianjur
- Perabot kuno
- Lukisan tokoh penting
- Kursi dan meja antik
- Dokumen sejarah
- Hiasan khas Sunda
Suasana di dalam rumah masih mempertahankan nuansa klasik sehingga pengunjung dapat merasakan kehidupan masyarakat Cianjur pada masa lampau.
Peran dalam Perjuangan Kemerdekaan
Salah satu hal yang membuat Bumi Ageung sangat bersejarah adalah perannya dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Pada masa pendudukan Jepang, rumah ini menjadi tempat berkumpul para pejuang dan tokoh pergerakan. Dari tempat inilah lahir berbagai gagasan perjuangan rakyat Indonesia.
Bumi Ageung pernah dijadikan markas kegiatan PETA yang merupakan organisasi militer bentukan Jepang, tetapi kemudian banyak anggotanya berjuang untuk kemerdekaan Indonesia. Karena itulah, bangunan ini dianggap memiliki nilai patriotisme dan nasionalisme yang tinggi bagi masyarakat Cianjur.
Bahkan pada masa kerusuhan sosial sekitar tahun 1962–1963, rumah ini pernah digunakan sebagai tempat perlindungan bagi perempuan, anak-anak, dan orang lanjut usia. Hal tersebut menunjukkan bahwa Bumi Ageung juga memiliki nilai kemanusiaan dan toleransi.
Bumi Ageung Sebagai Cagar Budaya
Karena memiliki nilai sejarah yang besar, pemerintah menetapkan Bumi Ageung sebagai Benda Cagar Budaya Nasional pada tahun 2010 melalui keputusan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata.
Saat ini, bangunan tersebut dirawat oleh keturunan keluarga Raden Adipati Aria Prawiradiredja II dan difungsikan sebagai rumah museum sejarah. Banyak pelajar, wisatawan, budayawan, dan peneliti datang ke tempat ini untuk mempelajari sejarah Cianjur dan budaya Sunda.
Keberadaan Bumi Ageung sangat penting sebagai sarana pendidikan sejarah bagi generasi muda agar mereka mengenal perjuangan para pendahulu dan menghargai warisan budaya bangsa.
Bumi Ageung Cikidang lebih dari sekadar bangunan berusia tua, melainkan juga jendela masa lalu untuk menyelami jejak sejarah Cianjur dan Indonesia. Keberadaannya mengajarkan nilai-nilai perjuangan, kebudayaan, dan kekuatan keluarga dalam menjaga warisan sejarah.
Melangkahkan kaki ke dalam rumah tua ini bukan hanya sekadar mengintip masa lalu, tetapi merasakan semangat perjuangan yang masih hidup di setiap sudutnya. Bumi Ageung Cikidang adalah simbol bahwa di tengah modernisasi, warisan sejarah tetap terawat, lestari, dan layak dihormati sebagai refleksi identitas bangsa yang tak lekang oleh zaman
SUMBER REFERENSI
1. Ismet Selamet. (2020). Bumi Ageung Cikidang Cianjur Saksi Bisu Perjuangan Kemerdekaan Di akses pada tanggal 19 Mei 2026 dari https://share.google/f2DfjRFz0gyXpBbha

Komentar
Posting Komentar